Minggu, 15 Januari 2012

Dakwah dalam Era Globalisasi (Tantangan atau Ancaman???)


Dakwah sebagai salah satu bentuk komunikasi religius adalah aktifitas umat Islam yang brada dalam posisi dilematis di era globalisasi seperti sekarang ini. 
Era globalisasi yakni era komunikasi dan penyebaran informasi tanpa ada batasan rambu-rambu dan penyaringan. Di era globalisasi ini, pergeseran dan saling mempengaruhi antar nilai-nilai budaya tidak bisa dihindarkan. Untuk itu, Islam dan umatnya harus mampu bertahan, namun juga harus mampu berperan aktif. 
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin dahsyat saat ini telah menimbulkan perubahan disetiap aspek kehidupan manusia, tak terkecuali aspek missionaris yang terkandung dalam satu agama yangdi anut oleh seseorang.
Islam adalah agama yang missionaris, dengan caranya, yaitu dakwahIslam mencoba mengkomunikasikan segala aspek keagamaan yang ada di dalamnya dengan cara sebaik mungkin. Seperti halnya komunikasi, dakwah mengandung unsur-unsur yang melengkapinya. Da’i atau mubaligh (komunikan), mad’u (komunikator), materi dakwah sebagai pesan dan media dakwah yang digunakan oleh para da’I atau mubaligh, baik secara langsung (face to face) atau lewat kecanggihan teknologi saat ini seperti dakwah lewat TV, radio atau internet.
Globalisasi dan modernisasi yang dianggap identik dengan dengan westernisasi, menimbulkan pengertian bahwa religiousitas (sikap keberagamaan) akan bertentangan dengan modernisasi. Namun, tidak sedikit juga umat Islam yang telah menjadikan modernisasi sebagai alat yang berguna untuk kegiatan dakwah karena tidak bisa dipungkiri, bahwa modernisasi dan globalisasi semakin merajai segala aspek kehidupan manusia.
Tidak menutupi kenyataan sekarang semakin banyak umat Islam yang semakin sadar bahwa ada nilai-nilai modernitas yang bermanfaat bagi kelancaran aktifitas komunikasi Islam. Globalisasi yang semakin merangkul erat kehidupan manusia menjadikan mereka tidak bisa lagi menghindar, kecuali mereka sengaja mengungkung diri dengan menjauh dari interaksi dan komunikasi yang semakin canggih. Globalisasi, ketika dimanfaatkan untuk tujuan yang baik maka akan mengandung hal-hal positif. Sebaliknya, akan berakibat negative, ketika hanyut pada hal-hal mnegatif. Jadi, globalisasi akan tergamntung pada siapa yang menggunakan dan untuk tujuan apa dia digunakan.
Globalisasi bisa menjadi manfaat, juga bisa jadi mudharat. Produk globalisasi, yatu teknologi komunikasi dapat dijadikan alat untuk dakwah dan dapat pula menjadi ancaman dakwah.
Dalam menghadapi arus modernisasi dan globalisasi, masyarakat Islam makin menggencarkan pula gerak dakwah dengan memanfaatkan terobosan-terobosan yang dilahirkan oleh modernisasi dan globalisasi tersebut. Umat Islam juga semakin membawa dakwah kepada ruang yang kmembuatnya tetap eksis dan bertahan sebagi cara yang ampuh dalam proses islamisasi.
Menyoal eksistensi dan arah dakwah dalam spectrum era teknologi informasi dan komunikasi membersitkan sebuah kesan bahwa dakwah sejauh ini terkesan berjalan tertatih-tatih dengan beban yang terlalu berat, bergelantungan diawan tanpa kepastian, dan mondar mandir tak jelas kemana akan menuju. Dakwah dalam hal ini mestinysa memperoleh keniscayaan yang terbuka untukbermuara dalam alur globalisasi tersebut. Dakwah dituntut mampu menampilkan muatan pesannya (Islam) yang memberikan nilai tambah, penghargaan dan kreuntungan.
Era informasi merupakan kesempatan emas dan waktu yang tepat melakukabn pembenahan SDM. Dalam kegiatan dakwah di era globalisasi seperti saat ini, kualitas SDM merupakan salah satu problematika yang sedang dihadapi. Banyak da’I yang kurang professional dan gagap teknologi yang semakin canggih. Idrealnya seorang da’I tidak hanya memiliki kompetensi ynag bersifat substantive saja, seperti kemampuan dari sisi mater-materi dakwah dan akhlaq da’I, tetapi juga membutuhkan kompetensi lain berupa metodologi sehingga kompetensi substantive yang dimiliki dapat ditransformasikan kepada masyarakat secara efisien dan efektif.
Islam sebagai agama terakhir dan agama yang mengentaskan manusia dari kegelapan menuju cahaya, dituntut untuk memberi petunjuk dan pilihan untuk menghadapi era globalisasi. Dalam dakwahnya, Islam berupaya bertahan dari pengaruh-pengaruh negative dan menyaring hal-hal negative dari globalisasi dan modernisasi. Dengan tetap tidak menyimpang dari kemurnian agama, Islam tetap berusaha mengambil manfaat dari kecanggihan teknologi informasi sebagai salah satu produk globalisasi dan modernisasi.
Oleh karena itu, agar tidak ‘kelabakan’ dalam menghadapi era globalisasi, maka diperlukan persiapan yaitu sumber daya manusia (da’i) yang lebih matang yang mampu menerima, menyaring sekaligus berperan aktif dalam pertarungan budaya yang liar ini.


Minggu, 08 Januari 2012

hehehee. . .boleh ga sih ???


Boleh ga sih jadi pribadi ambisius ???
Emm…
Dalam budaya kita, kata ambisius sering diartikan dengan hal negative. Misalnya nih, orang yang obsesif atau ambisius biasa dibilang sebagai orang yang ngotot atau ‘ngoyo’ dalam melakukan sesuatu.
Biarpun gitu, ga semua orang yang punya ambisi yang kuat adalah orang yang ngoyo atau ngotot. Orang yang berambisi tentunya adalah orang  yang pengen unggul dalam melakukan segala hal yang menjadi keinginannya.
So,ga salah kok jadi orang yang ambisius, selama yang kita benar-benar inginkan itu positif dan ga ngerugiin orang lain, lebih bagus lagi kalo bias bermanfaat buat orang lain.

boleh dibaca, kemudian dikoment. .^_^


JILBAB
( ISLAM ATAU BUDAYA??? )
Dakwah adalah Islamisasi, proses membawa Islam menjadi nyata, menyampaikan pesan-pesan religious kepada umat agar mendapat kebahagiaan di dunia hingga akhirat.
Budaya lahir karena keberadaan manusia yang menciptakan bermacam-macam kegiatan, menciptakannya kemudian melestarikannya.
Islam dan budaya seperti sudah menjadi satu kesatuan yang tercipta karena kegiatan manusia. Banyak yang dilakukan manusia dalam kehidupan beragama Islam yang kemudian menjadi budaya, meskipun kadang ada yang tidak setuju jika hal-hal tersebut adalah produk manusia, karena dianggap hal tersebut memang sudah ada dan menjadi ajaran dalam Islam. Contohnya adalah berjilbab, menggunakan mukena (rukuh) yang berwarna putih (bagi perempuan) ketika sholat.
Banyak yang memperdebatkan masalah jilbab atau menutup aurat bagi perempuan dalam agama Islam. Ada yang bilang kalau memakai jilbab adalah budaya orang-orang Arab dan Timur Tengah dan bukanlah termasuk ajaran syariat Islam. Di Indonesia sendiri, memakai jilbab juga berbeda cara dengan orang-orang di negeri Arab. Disini, menggunakan jilbab bukan hanya sebagai sarana menjalankan syariat agama, yaitu menutup aurat, tetapi juga sudah menjadi tren dalam berbusana dan bahkan, banyak juga yang memakai jilbab hanya pada waktu-waktu tertentu dan ikut-ikutan.
Jilbab dan cadar berasal dari budaya Timur Tengah, para wanita disana yang bukan beragama Islampun juga menggunakan jilbab. Jilbab disana digunakan untuk melindungi tubuh mereka dari serangan pasir karena disana adalah daerah gurun. Jilbab disana juga tidak hanya dipakai oleh wanita, tetapi pria juga memakainya. Karena sudah sering memakai dan menjadi kebiasaan turun temurun, maka jilbab menjadi satu kebudayaan yang ada disana.
Di Arab sendiri, sebelum agama Islam ada, wanita-wanita Jahiliah disana sudah menggunakan jilbab sebagai pakaian mereka. Hanya saja mereka memakainya dengan membiarkannya menjuntai kebelakang dan bagian lehehr dan dada mereka tetap terbuka. Maka setelah Islam datang, syariat segera membenarkan cara memakai jilbab yang menutup aurat. Di Indonesia, Negara kita tercinta, memakai jilbab masih menjadi perdebatan panjang. Ada yang mewajibkannya dan ada yang tidak menurut beberapa aliran dalam Islam. Mungkin jika dulu Islam pertama lahir di Indonesia, bisa saja budaya pakaian batik atau kebaya hilang. Maka, karena jangan pernah mengatakan bahwa budaya Arab adalah budaya Islam, karena Islam dilahirkan ditanah Arab bukan berarti semua yang ke-Arab-arab-an adalah ajaran Islam. Tidak !!!
Saya akan memberikan satu contoh kecil,
Ada seorang wanita muslimah, diapun bekerja di sebuah institusi Islam yang terkenal, yang setiap hari dia bekerja harus memakai jilbab. Dirumahpun juga memakai jilbab. Suatu hari dia dan suaminya mendapatkan undangan untuk menghadiri sebuah acara di sebuah club (tempat hiburan), dia dating ke acara tersebut dengan berpakaian biasa (bukan busana muslim) dan tentu saja tidak berjilbab.
Disana dia dilihat oleh seorang teman dan kemudian sang teman dating kerumah dan menceritakan apa yang dia lihat, bahwa suaminya pergi ke club bersama seorang wanita tidak berjilbab. Kemudian si wanita membuka jilbab di depan temannya dan menunjukkan bahwa yang sebenarnya dia lihat adalah si wanita itu sendiri.
Disini dapat diartiakan bahwa di Indonesia, berjilbab juga masih melihat konteks suasana dan tempat, belum sepenuhnya karena mengikuti syariat Islam.  
Banyak wanita di Indonesia tidak memakai jilbab meski mereka beragama Islam. Alasan mereka antara lain adalah karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskan mereka untuk tidak memakai jilbab. Meski tidak berjilbab, mereka tetap umat Islam yang tekun beragama, mendirikan sholat, puasa dan sebagainya. Jika ditanya lagi, alasan mereka kebanyakan adalah, “ jilbabi dulu hatinya, baru fisiknya. .”. Meski banyak juga wanita Indonesia yang berjilbab, kadang mereka sendiri tidak tahu alasan yang membuat mereka memakainya. Karena ikut-ikutan, agar merasa cantik, melindungi kepala dari panas atau disuruh mama???.
Dalam Islam, selain untuk menutup aurat yang disyariatkan, memakai jilbab juga melindungi wanita dari kejahatan fitnah dan kejahatan social, misal pemerkosaan. Wanita berjilbab akan terlindungi karena tidak memamerkan auratnya. Tetapi jika diperdebatkan, mungkinkah wanita berjilbab bisa juga mendapatkan kejahatan diperkosa karena pelaku kejahatan tidak melihat bagaimana dia berpakaian tetapi karena dia mendapat kesempatan.
Di Arab memakai jilbab adalah hasil budaya yang telah disempurnakan Islam, sedang di Indonesia memakai jilbab masih berupa perdebatan, meski jelas bahwa menutup aurat (dengan jilbab) adalah syariat Islam. Islam dating tidak untuk merubah budaya, tetapi  menyempurnakannya agar masyarakat mempunyai perdaban yang lebih tinggi. Jilbab bukan hanya menutup aurat bagi muslim perempuan tapi juga menjaganya dari berbagai kejahatan yang muncul akibat kesalahan perempuan sendiri karena tidak menjaga apa yang dimilikinya.
Memakai jilbab adalah salah satu cara muslim wanita menutup aurat, meski bukan merupakan ajaran Islam murni, karena jilbab adalah hasil peradaban bangsa Arab, tapi jilbab adalah penting dan berarti sama dengan menjalankan syariat. Jadi jangan mengartikan bahwa wanita muslim boleh tidak berjilbab karena bukan ajaran Islam sebenarnya, karena apapun itu, jilbab yang merupakan budaya Arab adalah sesuatu yang telah disempurnakan oleh agama kita tercinta, dan kita memandang secara subjektif terhadap saudara-saudara kita yang tidak berjilbab, karena belum tentu mereka tidak tahu ajaran agama Islam yang benar, tetapi anggap bahwa ada alasan yang membuat mereka belum bisa sepenuhnya melaksanakan syariat Islam. Kita yang telah faham harus tetap mengikuti dan mempertahankannya agar tercipta kehidupan yang Islami.  
                 

Film sebagai Media Dakwah


FILM SEBAGAI MEDIA DAKWAH
  1. PENDAHULUAN
Dewasa ini seringkali kita melihat atau bahkan terlibat dalam suatu kegiatan dakwah islamiyyah di masyarakat sekitar kita. Namun seringkali kita mengabaikan efektifitas dari kegiatan dakwah tersebut. Bahkan sudah menjadi rahasia umum bahwa kegiatan dakwah yang ada terkesan monoton. Monoton disini berati adanya suatu metode dari dakwah tersebut dinilai kurang memberikan efek yang besar bagi para mad’u dalam menerima informasi.
Maka sudah sepatutnya para pelaku dakwah beralih dari formula dakwah yang sudah lazim dilakukan. Seperti halnya dakwah bil Lisan. Kegiatan dakwah ini yang notabene marak dimasyarakat bukan berarti bernilai tidak baik. Namun jika kita lihat dari efektifitas penerapan informasi dari kegiatan dakwah tersebut sangatlah kurang memadai jika kita lihat maraknya informasi sekuler yang menerpa kita sehari-hari. Oleh karena itu menjadi keharusan adanya strategi baru dalam pelaksanaan suatu kegiatan dakwah.
Fenomena tersebut adalah indikasi dari kurang efektifnya kegiatan dakwah yang akhir-akhir ini dilakukan para pelaku dakwah. Kita lihat sejarah dakwah islam di negeri ini. Sejarah mencatat, media dakwah melalui seni dan budaya pada masa itu adalah dakwah yang efektif dan terasa signifikan dalam hal penerapan ideologi Islam pada masyarakat pada zamannya. Seperti halnya media film. Film adalah media yang begitu pas dalam memberikan influence bagi masyarakat umum. Penonton film seringkali terpengaruh dan cenderung mengikuti seperti halnya peran yang ada pada film tersebut. Maka ini dapat menjadi peluang yang baik bagi pelaku dakwah ketika efek dari film tersebut bisa diisi dengan konten-konten keislaman.





  1. PROFIL
A.    Mengenal Film
Film adalah hasil peradaban manusia yang dicipta melalui proses kreatif dengan melahirkan impian (imajinasi) melalui teknologi yang hasilnya dapat disaksikan semua orang. Film mengangkat peristiwa apa saja yang terjadi di sekitar kita, peristiwa terkini dan peristiwa masa lalu bahkan impian-impian masa depan (futuristik) yang belum atau tidak pernah terjadi dan melanda peradaban manusia.[1]
Film menjadi media yang sangat berpengaruh, melebihi media-media yang lain, skarena secara audio dan visual dia bekerja sama dengan baik dalam membuat penontonnya tidak bosan dan lebih mudah mengingat, karena formatnya yang menarik.
Proses pembuatan film melalui tiga tahap; pra produksi, produksi, dan pasca produksi. Tiga hal ini tidak melulu harus berurutan seperti diatas, bisa dibolak-balik tergantung kebutuhan pengerjaan film. Pra produksi mencakup penulisan ide sampai menyiapkan sinopsis atau cerita. Kemudian tahap produksi (syuting) akan melaksanakan semua yang sudah dipersiapkan pra produksi. Dan yang terakhir adalah pasca produksi yang akan merangkai semua yang ada dari pra produksi dan produksi. Proses yang paling berat adalah pra produksi, bahkan sering dikatakan ketika pra produksi selesai maka film itu sudah 70% jalan dan kedua proses selanjutnya tinggal melanjutkan 30%.

B.     Jenis-jenis Film
Secara umum, film  bisa dibedakan menjadi beberapa jenis, antara lain :
1)      Film Laga (Action)  
Jenis film ini biasanaya berisi  adegan – adegan berkelahi yang menggunakan            kekuatan fisik atau supranatural yang biasanya didominasi oleh aktor. 
2)      Film Petualangan (Adventure) 
Jenis film ini biasanya berisisi cerita seorang tokoh yang melakukan perjalanan, memcahakan teka teki, atau bergerak dari titik A ke B.
3)      Film Komedi (Comedy)
Tanpa dijelaskan pasti anda semua mengerti, film ini biasanya tidak terlalu memperhatikan logika cerita.
4)      Film Kriminal (Crime)  
Jenis film ini berfokus pada kehidupan seorang penjahat.
5)      Film Dokumenter
Jenis film yang dibuat berdasarka suatu kisah nyata tanpa setting fiksi.
6)      Film Fantasy
Jenis Film ini biasanya didominsai oleh situasi yang tidak biasa dan cenderung aneh.
7)      Film Horor
Jenis film ini menghibur penontonnya dengan mengaduk – aduk rasa takut si penonton film itu.[2]

C.    Film Sebagai Media Dakwah
Dakwah merupakan kewajiban setiap muslim. Karena film dianggap cukup efektif untuk mengubah karakter masyarakat, maka nilai-nilai dakwah mumpuni untuk dimasukan dalam skenario yang kemudian diperankan oleh para pemainnya. Meski tidak bersifat mendalam dan komprehensif dalam penyampaian dakwahnya, para pemain biasanya memerankan seolah-olah menjadi sosok sebenarnya dalam film itu.
Salah satu sifat keberhasilan dakwah adalah mampu berubah sikap kejiwaan seseorang. Dari tidak yang kenal dan paham ajaran Islam menjadi kenal dan paham, dari tidak mau beramal saleh menjadi rajin berusaha melakukannya, dari cinta melakukan hal yang maksiat menjadi sering menjauhinya.[3]
Film-film Indonesia selama dua dekade (1980-an dan 1990-an) terpuruk sangat dalam. Insan film Indonesia seperti tak bisa berkutik menghadapi arus film impor. Masalah yang dihadapi harus diakui sangatlah kompleks.
Mulai dari persoalan dana, SDM (Sumber Daya Manusia), hingga kebijakan pemerintah. Persoalan ini dari tahun ke tahun semakin melebarkan jarak antara film, bioskop dan penonton, tiga komponen yang seharusnya memiliki pemahaman yang sama terhadap sebuah industri film. Dan itu menjadi suatu tantangan pagi para sineas film dakwah.
Di awal millenium baru ini tampaknya mulai ada gairah baru dalam industri film Indonesia terutama film yang mengusung tema Dakwah. Seperti halnya film Kiamat Sudah Dekat, Kun Fa Yakun, Perempuan Berkalung Sorban, Ketika Cinta Bertasbih, Hingga film Ayat-ayat Cinta yang begitu fenomenal akhir-akhir ini semakin memberikan peluang bagi para sineas dakwah.
Kenyataan ini cukup memberi harapan bagi para sineas-sineas dakwah, karena tidak hanya film yang ber-genre-kan horor, percintaan remaja atau komedi berbalut seksualitas yang bisa diterima masyarakat umum namun film yang bernuansakan Islam pun laku untuk diedar. Maka hal tersebut bisa menjadi suatu modal besar bagi para sineas dakwah dalam mengtransformasikan nilai keislaman.
pada media ini. Sejarah mencatat, media dakwah melalui seni dan budaya pada masa itu adalah dakwah yang efektif dan terasa signifikan dalam hal penerapan ideologi Islam pada masyarakat pada zamannya. Seperti halnya media film. Film adalah media yang begitu pas dalam memberikan influence bagi masyarakat umum. Penonton film seringkali terpengaruh dan cenderung mengikuti seperti halnya peran yang ada pada film tersebut. Maka ini dapat menjadi peluang yang baik bagi pelaku dakwah ketika efek dari film tersebut bisa diisi dengan konten-konten keislaman. Film bisa menjadi suatu tontonan yang menghibur, dan dengan sedikit kreatifitas kita bisa memasukan pesan-pesan dakwah pada tontonan tersebut seperti hanya para pendahulu kita. Film merupakan media komunikasi yang ampuh, bukan saja untuk hiburan, tetapi juga untuk penerangan dan pendidikan.[4]
Film berperan sebagai pengalaman dan nilai. Kegiatan pengtransformasian ajaran Islam akan dinilai sia-sia apabila para pelaku dakwah tidak memanfaatkan media sebagai suatu kekuatan dalam pelaksanaan dakwah kontemporer. Oleh karena itu, film bisa menjadi suatu solusi ketika masyarakat mengalami suatu stagnansi dalam penerimaan informasi keislaman.
Agar umat islam Indonesia jangan terjebak oleh tontonan-tontonan yang mengatasnamakan “cerita islam”, yang pada kenyataanya hanya mengeksploitasi umat islam untuk berbondong-bondong ke bioskop sehingga mengangkat rating film tersebut. Maka perlu ada penyatuan persepsi dari tokoh islam (Cendikiawan, ulama, akademisi islam ) dengan para sutrada dan produser film islam, guna menemukan definisi dan format film islam yang sebenarnya, dan sesuai dengan konteks agama dan realitas social masyarakat.
  1. ANALISIS
a.      Strong
Film adalah media yang begitu pas dalam memberikan influence bagi masyarakat umum. Penonton film seringkali terpengaruh dan cenderung mengikuti seperti halnya peran yang ada pada film tersebut. Maka ini dapat menjadi peluang yang baik bagi pelaku dakwah ketika efek dari film tersebut bisa diisi dengan konten-konten keislaman. Film bisa menjadi suatu tontonan yang menghibur, dan dengan sedikit kreatifitas kita bisa memasukan pesan-pesan dakwah pada tontonan tersebut
film dianggap cukup efektif untuk mengubah karakter masyarakat, maka nilai-nilai dakwah mumpuni untuk dimasukan dalam skenario yang kemudian diperankan oleh para pemainnya. Meski tidak bersifat mendalam dan komprehensif dalam penyampaian dakwahnya, para pemain biasanya memerankan seolah-olah menjadi sosok sebenarnya dalam film itu.
b.      Weakness
Filmnya memang banyak yang kelihatan Islam, padahal dia sama sekali tidak Islami. Karena yang bikin bukan orang Islam. Saya sedih melihat umat Islam Indonesia ini begitu pasif dalam dunia film. Sampai dalam syiar agamanya pun meminta bantuan kepada kaum non-Muslim.
Karena minimnya pengetahuan umat Islam dalam perfilman, tiba-tiba yang masuk ke koridor itu bukan orang Islam. Pedagang yang bukan dari kalangan Islam yang masuk ke sana. Akibatnya, salah kaprahlah nilai Islam di layar kaca. Sehingga, kesannya Tuhan orang Islam kejam, tidak rahman dan rahim. Akan tetapi, mereka  tidak sepenuhnya salah. Justru umat Islam yang tidak sepenuhnya paham dengan agamanya yang kadang membuat sebuah film menjadi salah penafsiran dan salah kaprah dalam penggambaran Islam.
c.       Opportunity
Film merupakan media komunikasi yang efektif dalam mengkomunikasikan nilai-nilai kepada masyarakat sehingga prilaku penonton dapat berubah mengikuti apa yang disaksikannya dalam berbagai film yang disaksikannya. Melihat hal demikian film sangat memungkinkan sekali media film digunakan sebagai sarana penyampai syiar Islam kepada masyarakat luas.
d.      Threatment
Film sejak lama telah menjadi media propaganda dalam menyebarkan suatu pemahaman kepada masyarakat. Dengan caranya yang halus (audio visual) film mampu membentuk opini publik tanpa disadari oleh khalayak. Tidak aneh kemudian film yang pada mulanya dianggap sebagai tontonan berubah menjadi tuntunan.
Berbicara tentang film sebagai media propaganda, Hollywood merupakan ikon film propaganda dunia saat ini. Industri hiburan produk Amerika Serikat ini seringkali membentuk stigma tentang masyarakat atau budaya di luar mereka, tak terkecuali Islam dan umat Islam. Usai berakhirnya perang dingin yang dimenangkan kapitalisme Amerika atas komunisme Uni Sovyet, blok Barat membidik Islam sebagai musuh berikutnya. Film kemudian menjadi media paling ampuh membentuk citra negatif Islam, sekalipun ada juga beberapa di antaranya yang tetap objektif memperlihatkan kebenaran Islam. Bila dikelompokkan, film Hollywood yang bercerita tentang Islam terbagi kepada tiga jenis, antara lain :

1.      Film yang menggambarkan citra buruk Islam, misalnya film Alladin (1992). Dalam film ini Islam dicitrakan sebagai budaya terbelakang yang memberlakukan hukuman, menurut orang Barat, tidak manusiawi, yaitu potong tangan. Film True Lies (1994) dan The Siege (1998) tidak kalah buruknya. Keduanya mencitrakan orang Arab dan Islam sebagai teroris.
2.      Film yang memperlihatkan Islam secara positif. Beberapa di antaranya The Messenger (1976), Lion of the Dessert (1981), Robin Hood: Prince of Thieves (1991), dan Kingdom of Heaven (2005). Film-film tersebut menggambarkan tokoh Muslim yang memiliki jiwa mulia.
3.      Film yang bersifat netral, tidak menjelek-jelekkan tapi juga tidak memuji Islam. Ini seperti Malcolm X (1992) dan Ali (2001) yang bercerita tentang biografi dua tokoh black Muslim Amerika. Dari tiga jenis film Hollywood di atas, jenis pertama saat ini semakin gencar diproduksi dan disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia. Hal ini tentunya membawa implikasi serius bagi umat berupa citra buruk di mata masyarakat internasional. Apalagi, kemudian terorisme dan berbagai bentuk kekerasan kerap muncul di negara-negara Islam. Citra tersebut pun semakin tertancap kuat.[5]
Di Indonesia, film Islam atau film dakwah termasuk barang langka. Dulu pernah muncul Cut Nyak Dien, Alkautsar, Titian Serambut Dibelah Tujuh, Nada dan Dakwah, serta Fatahillah. Namun, film-film seperti ini kemudian menghilang seiring dengan matinya perfilman Indonesia. Saat ini film layar lebar mulai bangkit kembali. Hanya saja isinya cenderung kontraproduktif dengan dakwah Islam. Saat ini yang sering muncul dan laku di pasaran adalah film-film berisi pesan pergaulan bebas.



Jadi di sini dapat sedikit disimpulkan tentang ancaman yang akan terjadi pada film sebagai media dakwah antara lain:
·         Film telah menjadi media propaganda dalam menyebarkan suatu pemahaman kepada masyarakat.
·         Umat Islam seringkali hanya menjadi konsumen dan objek sasaran industri kapitalisme hiburan dunia.
·         Produksi film bernuansa Islami di Indonesia justru merosot.
  1. PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat penulis sampaikan. Dalam penulisan makalah ini tentunya penulis masih sangat membutuhkan kritik dan saran yang konstruktif dari pembaca agar kelak dapat lebih baik lagi. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca umumnya dan bagi penulis khususnya. Amien.

DAFTAR PUSTAKA
Maladi, Agus, dkk.2008. Memproduksi Film. Semarang: DINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA PROVINSI JAWA TENGAH






FILM SEBAGAI MEDIA DAKWAH


Makalah
Disusun Guna Memenuhi
Tugas Akhir Semester Mata Kuliah : Media Dakwah
Dosen Pengampu : M. Alfandy



 






Disusun Oleh :
Laili Marya Ulfa                                                        091211043
                                      


                                                FAKULTAS DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011




[1] Agus Maladi, dkk. Memproduksi Film. Semarang: DINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA PROVINSI JAWA TENGAH. 2008. Hlm. 1
[2] http://klikdokumenter.blogspot.com/2010/11/film-sebagai-media-dakwah-oleh-rizky.html
[4] http://klikdokumenter.blogspot.com/2010/11/film-sebagai-media-dakwah-oleh-rizky.html

[5] http://mengaisilmu.blogspot.com/