Perbedaan Tingkat Prestasi Mahasiswa Tafsir Hadits IAIN Walisongo Semarang Dilihat Dari Intensitas Membaca Kitab Kuning dan Kitab Terjemah
I. Latar Belakang
Tidak jarang dijumpai, awal dari kesuksesan seseorang adalah dengan membaca, sehingga ada sebuah istilah “Membaca adalah Jendela Dunia”. Pernyataan ini menjelaskan bahwa pentingnya membaca bagi Prestasi seseorang. Contoh orang sukses yang diawali dengan membaca, Negara maju yang masyarakatnya gemar membaca. Agar kehidupan manusia berlangsung dinamis, Allah SWT menciptakan manusia pada awalnya dalam kondisi buta ilmu pengetahuan. Tetapi manusia memiliki fitrah ingin tahu, dan Allah meberikan manusia sarana belajar yaitu hati, mata, akal, dan telinga. Manusia yang belajar dengan menggunakan sarananya secara baik, akan memiliki ilmu yang luas dan dalam. Mereka akan menguasai kunci-kunci untuk membangun dan memanfaatkan alam semesta dengan sebaik-baiknya.
Akan tetapi, gelombang meterialistik yang destruktif, yang begitu gencar melanda, telah membuat banyak anak-anak kita tidak terarahkan secara baik. Banyak diantara mereka yang malas membaca. Tidak hanya dijenjang sekolah yang lebih rendah, bahkan sampai diperguruan tinggi pun, minat membaca sangat rendah. Apalagi membaca kitab baik yang terjemah maupun kitab kuning. Tentu saja hal ini sangat mempengaruhi kualitas ilmu mereka. Padahal potensi otak manusia sangat dahsyat. Dalam berbagai penelitian ditunjukkan, bahwa tingkat pemanfaatan potensi otak manusia, baru mencapai sepuluh sampai dua puluh persen.
“Tiada hari tanpa membaca”. Kalimat itu jelas taka sing menjadi kredo (kepercayaan, keyakinan) yang menjejali berbagai ruang pencerahan di negeri kita. Sayangnya, bagsa kita memang memiliki kebebalan rasa yang sudah sedemikian parah. Beribu kredo, slogan, motto berderet, semua hanya menjadi pajangan.
Kemampuan baca seseorang dipengaruhi oleh kesiapan membacanya. Kesiapan membaca seseorang dipengaruhi oleh factor lingkungannya. Membaca merupakan proses komunikasi. Membaca dapat juga dikatakan sebagai suatu kerja yang aktif dan interaktif sebagai proses memahami makna, yang akan menjadikan seseorang tertantang untuk terus berpikir. Buku menjadi bekal bagi mereka untuk menjadi anak yang berhasil, buku itulah kuncinya. Kita harus menanamkan pada anak bahwa buku itu segalanya. Jadi kita harus berusaha membuat buku itu menarik.
Membaca bisa menjadikan kaya pengetahuan, berkembang intelegensinya, kemampuan konsentrasi serta komunikasinya. Membaca juga bisa menjadikan bijak dan mengubah suasana hati seseorang, menjadikan seseorang mampu menghargai dan tidak mudah meremehkan orang lain. (Elly Damaiwati. Karena buku senikmat susu. 2007. Surakarta: Indiva Media Kreasi). Perilaku membaca kitab mahasiswa jurusan Tafsir Hadits IAIN Walisongo berbeda-beda, ada yang ketika kuliah berlangsung, ada yang membaca ketika di rumah, ataupun ada yang membaca melalui diskusi tatapi aktivitas ini sangat minim dilakukan. Lebih banyak mahasiswa Tafsir Hadits yang memilih berbincang-bincang dengan temannya saat menunggu Dosen atau di tempat lain dari pada membawa buku dan membaca. Rendahnya minat membaca kitab mahasiswa Tafsir Hadits terlihat dari minornya mahasiswa Tafsir Hadits yang mengunjungi perpustakaan IAIN Walisongo untuk meminjam maupun membaca kitab-kitab yang telah tersedia di sana. Sering dijumpai mahasiswa Tafsir Hadits yang tidak bisa menjelaskan tentang sejarah ahli kitab maupun teori-teori besar yang sangat penting dalam ilmu tafsir.
Jarang dijumpai mahasiswa Tafsir Hadits yang membawa kitab terjemah maupun kitab kuning waktu masuk kuliah. Dari informasi-informasi yang kami peroleh diatas, mengenai keterkaitan antara orang-orang yang sukses dengan aktivitas membacanya yang terus-menerus. Hal tersebut membuat kami tertarik untuk meneliti “Kebiasaan Membaca Kitab Mahasisiswa Jurusan Tafsir Hadits IAIN Walisongo dan Prestasi Belajar Mahasiswanya” untuk mengetahui hubungan antara keduanya.
II. Rumusan Masalah
Dari gambaran diatas, terdapat beberapa permasalahan yang bisa kami ajukan, diantaranya:
a. Bagaimana prestasi belajar mahasiswa Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir Hadits IAIN Walisongo?
b. Adakah perbedaan tingkat prestasi antara mahasiswa Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir Hadits IAIN Walisongo yang membaca kitab kuning dengan kitab terjemah?
III. Tujuan Penelitian
Dalam penelitian ini, kami mempunyai beberapa tujuan, diantaranya adalah sebagai berikut:
c. Untuk mengetahui kebiasaan membaca kitab mahasiswa Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir Hadits IAIN Walisongo.
d. Untuk mengetahui prestasi belajar mahasiswa Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir Hadits IAIN Walisongo.
e. Untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan prestasi belajar mahasiswa Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir Hadits IAIN Walisongo antara kebiasaan membaca kitab kuning dan kitab terjemah.
IV. Rumusan Hipotesis
Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari hipotesis dua arah yaitu Hipotesis alternative dan hipotesis Nol. Hipotesis benar jika Hipotesis alternative (Ha) terbukti kebenarannya.
Ha : Adanya perbedaan tingkat prestasi belajar mahasiswa Jurusan Tafsir Hadits.
Ho : Tidak adanyan perbedaan tingkat prestasi belajar mahasiswa Tafsir Hadits.
V. Identifikasi Variabel
a. Variabel bebas : Intensitas membaca kitab terjemah dan kitab kuning
b. Variabel terikat : Perbedaan Prestasi Belajar
VI. Populasi dan sampel
a. Populasi : Mahasiswa prestasi belajar mahasiswa Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir Hadits IAIN Walisongo
b. Sampel : 10 Mahasiswa prestasi belajar mahasiswa Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir Hadits IAIN Walisongo
VII. Metode Pengumpulan Data
a. Observasi
Dalam menggunakan metode observasi cara yang paling efektif adalah melengkapinya dengan format atau blangko pengamatan sebagai instrument. Format yang disusun berisi item-item tentang kejadian atau tingkah laku yang digambarkan akan terjadi. Dari penelitian berpengalaman diperoleh suatu petunjuk bahwa mencatat data observasi bukanlah sekedar mencatat, tetapi juga mengadakan pertimbangan kemudian mengadakan penilaian ke dalam suatu skala bertingkat. Misalnya kita memperhatikan reaksi penonton televisi, bukan hanya mencatat bagaimana reaksi itu, dan berapa kali muncul, tetapi juga menilai reaksi tersebut sangat, kurang, atau tidak sesuai dengan yang kita kehendaki. (Jalaludin Rakhmat, 1989 : 114)
b. Dokumentasi
Metode dokumentasi dilakukan dengan cara mencari data tentang hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya. Lexi J. Moleong (2004) mendefinisikan dokumen sebagai setiap bahan tertulis ataupun film, yang tidak dipersiapkan karena adanya permintaan aseorang penyidik. Penggunaan metode dokumen dalam penelitian ini karena alasan sebagai berikut (Guba dan Lincoln, 1981) dalam bukunya Lexy J. Moleong (2004):
v Merupakan sumber yang stabil, kaya, dan mendorong.
v Berguna sebagai bukti untuk suatu pengujian.
v Berguna dan sesuai dengan penelitian kualitatif karena sifatnya yang alamiah, sesuai dengan konteks, lahir dan berada dalam konteks.
v Tidak reaktif sehingga tidak sukar ditemukan dengan teknik kajian isi.
v Dokumentasi harus dicari dan ditemukan.
v Hasil pengkajian isi akan membuka kesempatan untuk lebih memperluas tubuh pengetahuan terhadap sesuatu yang diselidiki.
c. Wawancara
Adalah percakapan dengan maksud tertentu percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. (Jalaludin R, 2000 : 121).
d. Angket
Metode angket adalah salah satu metode penelitian dengan menggunakan daftar pertanyaan yang berisi aspek yang hendak diukur, yang harus dijawab atau dikerjakan oleh subyek penelitian, berdasarkan atas jawaban atau isian itu peneliti mengambil kesimpulan mengenai subyek yang diteliti (Jalaludin R, 2000 : 121).
Penggunaan metode angket, menurut Hadi (1993) didasari oleh beberapa anggapan, yaitu:
· Subyek adalah orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri.
· Apa yang dinyatakan subyek kepada peneliti adalah benar-benar dapat dipercaya
· Interpretasi subyek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya adalah sama demngan yang dimakksud peneliti.
Angket memiliki bermacam-,macambentuk yakni:
· Angket langsung atau tidak langsung
· Angket terbuka atau angket tertutup
Bentuk angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah bersifat langsung dan tertutup. Artinya angket yang merupakan daftar pertyanyan diberikan langsung kepada mahasiswa sebagai subyek penelitian, dan dakam mengisi angket, mehasiswa diharuskan memilih karena jawaban telah disediakan.
VIII. Analisis data
Secara garis besar, pekerjaan analisis data meliputi tiga tahap utama:
1. Persiapan: mengecek nama, isisan, dan macam data.
2. Tabulasi : memberi skor, memberi kode, mengubah jenis data, dan coding dalam coding form.
3. Penerapan data sesuai dengan pendekatan penelitian:
· Penelitian deskriptif : presentase dan komparasi engan criteria yang telah ditentukan
· Penelitian komparasi: dengan berbagai teknik korelasi sesuai dengan jenis data.
· Penelitian eksperimen: diuji hasilnya dengan t-test.
Namun oleh karena data yang dikumpulkan baru data mentah, maka sebelum di analisis, data mentah tersebut diolah lebih dahulu sebelum dianalisis dengan tehnik analisis tertentu. Dan secara umum teknik analisa data untuk kuantitatif menggunakan metode statistic, dan agar mudah biasanya di bantu oleh program komputer, seperti SPSS, SPS, Minitab, MS exel, dll. Terdapat dua macam statistic yang digunakan untuk analisa data dalam penelitian, yaitu: statistic deskriptif dan statistic inferensial. Statistic inferensial meliputi statistic parametris dan statistic non parametris. Dalam penelitian ini, akan digunakan analisis data dengan metode t-test. Jumlah data yang digunakan dalam analisis ini terdapat 10 sampel.
Ada dua rumus untuk pembuktian hipotesis melalui t-test :
1. Tes “t” untuk Sampel Kecil (N<30) yang berkorelasi Rumusnya adalah sebagai berikut :
t0 = 

NILAI TINGKAT PRESTASI MAHASISWA JURUSAN TAFSIR HADITS FAKULTAS USHULUDIN IAIN WALISONGO SEMARANG
| Nama Mahasiswa | PRESTASI MAHASISWA | TAFSIR HADITS |
| | Membaca Kitab Kuning | Membaca Kitab Terjemah |
| Ningsih | 65 | 60 |
| Dany | 60 | 55 |
| Lilly | 73 | 65 |
| Cimud | 80 | 70 |
| Risna | 78 | 75 |
| Chabibah | 65 | 65 |
| Ajidonk | 79 | 72 |
| Bib Bib | 52 | 50 |
| Paijo | 73 | 68 |
| Paijem | 80 | 72 |
Analisis statistik dilakukan untuk menguji hipotesis nol yang menyatakan tidak terdapat perbedaan yang signifikan dengan menggunakan metode Intropeksi dan metode Ekstropeksi.
Proses analisis statistik dengan test-t adalah sebagai berikut :
1) Menghitung harga t˳
Langkah-langkah penghitungannya adalah sebagai beikut :
a) Menyiapkan table perhitungan untuk mencari ΣD dan ΣD2 sebagaimana tampak pada table berikut :
TABEL PERHITUNGAN UNTUK MEMPEROLEH HARGA “t”
| Nama Mahasiswa | Tingkat Prestasi Hadits | Mahasiswa Tafsir | D | D2 |
| | Membaca Kitab Kuning | Membaca kitab Terjemah | | |
| Ningsih | 65 | 60 | 5 | 25 |
| Dany | 60 | 55 | 5 | 25 |
| Lilly | 73 | 65 | 8 | 64 |
| Cimud | 80 | 70 | 10 | 100 |
| Risna | 78 | 75 | 3 | 9 |
| Chabibah | 65 | 65 | 0 | 0 |
| Ajidonk | 79 | 72 | 7 | 49 |
| Bib Bib | 52 | 50 | 2 | 4 |
| Paijo | 73 | 68 | 5 | 25 |
| Paijem | 80 | 72 | 8 | 64 |
| N= 10 | - | - | ΣD = 53 | ΣD2 = 365 |
b) Menghitung standar deviasi perbedaan skor dari kedua variable.
SDD =
= 
=
= 2,9
= 2,9 = 
= 
c) Substitusikan ke dalam rumus
t0 = 

= 

= 
= 
= 
= 5,481
2) Memberi interpretasi terhadap t˳
a) Mencari df
df = 10-1 = 9
b) Berkonsultasi pada table nilai “t”
Dengan df = 9 diperoleh harga kritik “t” atau ttabel sebagai berikut :
Pada taraf signifikan 5% = 2,26
Pada taraf signifikan 1% = 3,25
c) Bandingkan t0 dengan t t dengan ketentuan :
v Bila t0 sama dengan atau lebih besar dari tt maka hipotesis nol (Ho) ditolak, yang berarti ada perbedaan yang signifikan.
v Bila t0 lebih kecil dari tt maka hipotesis nol (Ho) diterima, yang berarti tidak ada perbedaan yang signifikan.
Dengan t0 = 5,481 berarti lebih besar dari tt pada taraf signifikan 5% maupun pada taraf 1% (2,26 < 5,481> 3,25). Dengan demikian berarti H0 ditolak.
d) Kesimpulan
Ada perbedaan yang signifikan tentang tingkat prestasi kemampuan mahasiswa Psikologi dengan menggunakan metode Intropeksi dan metode Ekstropeksi. Perbedaan mean menunjukkan penggunaan metode Instropeksi lebih baik dibandingkan dengan metode Ekstropeksi (Hartono, 2008 : 181-185)
2. Tes “t” untuk Sampel (N>30) yang berkorelasi
Rumus yang digunakan untuk menghitung harga t0 untuk sampel besar (N>30) yang berkorelasi adalah sebagai berikut :
t0 = 

DAFTAR PUSTAKA
Ø Damaiwati, Elly, 2007, Karena buku senikmat susu, Surakarta: Indiva Media Kreasi
Ø Hartono, 2008, Statistik untuk Penelitian,Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Ø Rakhmat Jalaludin, 1989, Metode Penelitian komunikasi, Bandung : Remaja Karya

0 komentar:
Posting Komentar