Dakwah sebagai salah satu bentuk komunikasi religius adalah aktifitas umat Islam yang brada dalam posisi dilematis di era globalisasi seperti sekarang ini.
Era globalisasi yakni era komunikasi dan penyebaran informasi tanpa ada batasan rambu-rambu dan penyaringan. Di era globalisasi ini, pergeseran dan saling mempengaruhi antar nilai-nilai budaya tidak bisa dihindarkan. Untuk itu, Islam dan umatnya harus mampu bertahan, namun juga harus mampu berperan aktif.
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin dahsyat saat ini telah menimbulkan perubahan disetiap aspek kehidupan manusia, tak terkecuali aspek missionaris yang terkandung dalam satu agama yangdi anut oleh seseorang.
Islam adalah agama yang missionaris, dengan caranya, yaitu dakwahIslam mencoba mengkomunikasikan segala aspek keagamaan yang ada di dalamnya dengan cara sebaik mungkin. Seperti halnya komunikasi, dakwah mengandung unsur-unsur yang melengkapinya. Da’i atau mubaligh (komunikan), mad’u (komunikator), materi dakwah sebagai pesan dan media dakwah yang digunakan oleh para da’I atau mubaligh, baik secara langsung (face to face) atau lewat kecanggihan teknologi saat ini seperti dakwah lewat TV, radio atau internet.
Globalisasi dan modernisasi yang dianggap identik dengan dengan westernisasi, menimbulkan pengertian bahwa religiousitas (sikap keberagamaan) akan bertentangan dengan modernisasi. Namun, tidak sedikit juga umat Islam yang telah menjadikan modernisasi sebagai alat yang berguna untuk kegiatan dakwah karena tidak bisa dipungkiri, bahwa modernisasi dan globalisasi semakin merajai segala aspek kehidupan manusia.
Tidak menutupi kenyataan sekarang semakin banyak umat Islam yang semakin sadar bahwa ada nilai-nilai modernitas yang bermanfaat bagi kelancaran aktifitas komunikasi Islam. Globalisasi yang semakin merangkul erat kehidupan manusia menjadikan mereka tidak bisa lagi menghindar, kecuali mereka sengaja mengungkung diri dengan menjauh dari interaksi dan komunikasi yang semakin canggih. Globalisasi, ketika dimanfaatkan untuk tujuan yang baik maka akan mengandung hal-hal positif. Sebaliknya, akan berakibat negative, ketika hanyut pada hal-hal mnegatif. Jadi, globalisasi akan tergamntung pada siapa yang menggunakan dan untuk tujuan apa dia digunakan.
Globalisasi bisa menjadi manfaat, juga bisa jadi mudharat. Produk globalisasi, yatu teknologi komunikasi dapat dijadikan alat untuk dakwah dan dapat pula menjadi ancaman dakwah.
Dalam menghadapi arus modernisasi dan globalisasi, masyarakat Islam makin menggencarkan pula gerak dakwah dengan memanfaatkan terobosan-terobosan yang dilahirkan oleh modernisasi dan globalisasi tersebut. Umat Islam juga semakin membawa dakwah kepada ruang yang kmembuatnya tetap eksis dan bertahan sebagi cara yang ampuh dalam proses islamisasi.
Menyoal eksistensi dan arah dakwah dalam spectrum era teknologi informasi dan komunikasi membersitkan sebuah kesan bahwa dakwah sejauh ini terkesan berjalan tertatih-tatih dengan beban yang terlalu berat, bergelantungan diawan tanpa kepastian, dan mondar mandir tak jelas kemana akan menuju. Dakwah dalam hal ini mestinysa memperoleh keniscayaan yang terbuka untukbermuara dalam alur globalisasi tersebut. Dakwah dituntut mampu menampilkan muatan pesannya (Islam) yang memberikan nilai tambah, penghargaan dan kreuntungan.
Era informasi merupakan kesempatan emas dan waktu yang tepat melakukabn pembenahan SDM. Dalam kegiatan dakwah di era globalisasi seperti saat ini, kualitas SDM merupakan salah satu problematika yang sedang dihadapi. Banyak da’I yang kurang professional dan gagap teknologi yang semakin canggih. Idrealnya seorang da’I tidak hanya memiliki kompetensi ynag bersifat substantive saja, seperti kemampuan dari sisi mater-materi dakwah dan akhlaq da’I, tetapi juga membutuhkan kompetensi lain berupa metodologi sehingga kompetensi substantive yang dimiliki dapat ditransformasikan kepada masyarakat secara efisien dan efektif.
Islam sebagai agama terakhir dan agama yang mengentaskan manusia dari kegelapan menuju cahaya, dituntut untuk memberi petunjuk dan pilihan untuk menghadapi era globalisasi. Dalam dakwahnya, Islam berupaya bertahan dari pengaruh-pengaruh negative dan menyaring hal-hal negative dari globalisasi dan modernisasi. Dengan tetap tidak menyimpang dari kemurnian agama, Islam tetap berusaha mengambil manfaat dari kecanggihan teknologi informasi sebagai salah satu produk globalisasi dan modernisasi.
Oleh karena itu, agar tidak ‘kelabakan’ dalam menghadapi era globalisasi, maka diperlukan persiapan yaitu sumber daya manusia (da’i) yang lebih matang yang mampu menerima, menyaring sekaligus berperan aktif dalam pertarungan budaya yang liar ini.


0 komentar:
Posting Komentar