Minggu, 28 April 2013

MUSLIHAT TAHI LALAT (Cerpen)



Sampai juga aku di depan rumah ini. Besar tapi terlihat sepi. Pohon Mangga yang menjulang tinggi dan daunnya yang lebat menambah suasana teduh pun menjatuhkan daunnya seakan menyambut kedatanganku. Ya, sudah lama aku tak kesini sejak Mbah Uti meninggal.
Segera kumatikan mesin kendaraanku yang sudah sangat panas karena perjalanan jauh. Ku letakkan helm batok kesayanganku di kaca spion sebelah kanan, sementara yang kiri aku gunakan untuk berkaca dan membenarkan rambutku yang berantakan karena terlalu lama memakai helm.
Dari luar rumah sudah terlihat, pintu utama yang selalu dibiarkan terbuka membuatku dengan jelas melihat Mbah Kakung sedang duduk di kursi goyangnya di dekat jendela. Bertelanjang dada layaknya atlet binaraga, tak sadar saja badannya yang makin kurus seperti tidak terurus. Disebelahnya terdapat meja yang diatasnya ada radio tape tua tapi suara yang dihasilkan speakernya masih terdengar jernih tanpa noise meskipun dari kejauhan. Sambil mengebulkan asap cerutunya, dia terlihat asyik menggeleng-gelengkan kepala pertanda sangat menikmati music tayub kesayangan yang khas di tengah terik siang.
“Cucuku, kaukah itu ?”
Suara lirih agak bergetar terdengar dari bibir yang sudah keriput. Mungkin karena terlalu sering menghisap cerutu, pikirku.
“Iya, Kung .
Ini Aisyah”.
Jawabku sambil berjalan memasuki rumah yang pernah menjadi tempat bermain diwaktu kecilku.
Keadaannya tidak berubah, masih dengan dinding kayu jati yang dipertahankan. Bercatkan warna hijau tua, khas warga Nahdliyin. Setidaknya itu kata Mbah Kakungku kalau ditanya kenapa dia sangat menyukai warna yang seperti lumut batu itu.
Di dinding masih tertempel lukisan-lukisan Ulama dan pahlawan-pahlawan besar. Dari Hasyim Asy’ari, Ahmad Dahlan, sampai Abdurrahman Wahid. Kuraih tangan kanannya, kusalami lalu kukecup mesra sebagai rasa hormatku padanya.
“Mbah sehat ?”, tanyaku basa-basi meskipun aku sudah tahu dari keadaan badannya yang terlihat makin kurus kerempeng itu.
“Alhamdulillah, kalau kamu masih bisa melihatku disini berarti aku masih baik-baik saja”. Tandasnya tegas.
Aku hanya bisa mengernyitkan dahi dan tersenyum untuk kebohongannya kali ini. Aku tahu pasti ada sesuatu yang membuat Mbah Kakung mewajibkanku datang kerumahnya hari ini. Tapi tak bisa kutebak apa yang akan diberikannya padaku.
Sementara di atas meja, aku lihat selembar potret dengan gambar Almarhumah Mbah Uti. Wajahnya terlihat segar berseri di poto itu. Senyumnya lebar dan manis membuatku berpikir mungkin inilah yang membuat Mbah Kakung menjatuhkan hati padanya.
Semakin lama kupandangi potonya, semakin ku rasa ada perbedaan yang aku lihat di wajah Mbah Uti. Sambil kukibas-kibaskan potonya, aku terus berfikir. Apa yang beda dari wajah Mbah Uti di foto ini. Tapi ah, Mbah Uti sudah tenang disana. Aku yakin bersama Tuhan wajahnya lebih cantik dan bersinar dibanding yang aku lihat di gambar tak bergerak ini.
Ku tinggalkan Mbah Kakung yang masih asyik dengan radio kesayangannya. Aku susuri setiap pojok ruangan di rumah besar ini. Masih sama seperti dulu, televisi di ruang tengah dan didepannya tergelar kasur lantai warna biru motif bunga.
Di dinding belakang berjejer rapi foto-foto keluarga. Tapi saying frame-nya penuh debu seperti tidak pernah dibersihkan. Wajahku dan ayah ibuku terlihat kumal, jelek sekali.
“Sebenarnya siapa keluarganya ?
Hasyim Asy’ari dan kawan-kawannya atau anak-anaknya sendiri yang lebih penting ?”
Gerutuku karena melihat lukisan-lukisan pahlawan terlihat lebih bersih dan kinclong daripada foto keluarga. Tapi tak apa, yang penting kami masih selalu ingat untuk berkunjung saat weekend tiba. Bukan sekedar gambar yang terpampang tak bersuara.
Ku hampiri lagi Mbah Kakung yang masih juga belum beranjak dari posisi nyenyaknya. Suara music tayub sudah berubah menjadi siaran pengajian. Siaran langsung dari Pondok Pesantren Al-Ma’ruf Bandungsari, tempat kakek, ayah dan ibuku belajar agama. Hanya aku yang tak mau saat diminta untuk mondok disana. Aku tidak suka suasana pesantren. Jangan paksa aku bercerita kenapa.
“Sudah semester berapa kamu sekarang, Nduk ?’
Tanya Mbah Kakung yang tiba-tiba saja terbangun.
“Delapan, Kung”
“Sudah dapat apa kamu ?”
“Belum apa-apa, Kung”. Jawabku sambil meringis memamerkan gigi-gigiku.
Ku seret kursiku agar lebih dekat dengan posisi duduk Mbah Kakung. Aku mulai meraih tangannya lalu ku pijat. Kulitnya ayit karena penuaan. Mbah Kakung menyukai pijatanku. Dia bilang rasanya seperti pijatan Mbah Uti.
“Memangnya kapan terakhir kali dipijat sama Mbah Uti ?”. Pikirku sambil meringis.
Lalu ku pandangi lagi foto yang masih tergeletak di meja sambil terus berfikir apa hal berbeda yang ada di foto itu.
Semakin ku pandangi fotonya semakin keras otakku berputar. Satu pertanyaan saja tapi begitu membuatku pusing. Sedang suara dengkuran mulai terdengar.
“yah, tidur lagi . .”
Dengan hati-hati kuselesaikan pijitanku dan ku letakkan tangannya diatas pangkuannya. Kemudian aku lanjutkan mengelilingi rumah sampai ke belakang.
Sekarang di halaman belakang rumah Mbah Kakung ada banyak sekali pot bunga Mawar dengan berbagai warna. Di jemuran aku lihat pakaian wanita lengkap dengan pakaian dalam berjejeran. Pakaian-pakaian itu tak asing bagiku. Itu adalah kepunyaan Almarhumah Mbah Uti.
Dengan penuh keheranan ku bolak-balikkan pakaian yang masih basah di jemuran itu. Ku lihat sekeliling sambil makin berfikir.
“Apa iya Mbah Kakung yang mencuci semua pakain ini ?”
“Apa mungkin disini ada penghuni yang lain selain Mbah Kakung ?”
Enam bulan yang lalu saat liburan semester adalah terakhir kali aku menengok Mbah Kakung. Dan hari ini aku melihat banyak sekali perubahan yang terjadi.
“Masya Allah . .”
Tersentak aku mendengar suara ringtone polyphonic dari ponselku. Saking kagetnya karena aku sibuk berfikir apa mungkin Mbah Kakung mulai terkena gangguan jiwa sehingga melakukan hal-hal aneh seperti menanam bunga dan mencuci pakaian wanita.
“Sudah sampai rumah Mbah belum, Nduk ?”
Sms dari ayahku. Kemudian mulai ku ketik balasan dan meminta maaf karena lupa mengabari kalau aku sudah sampai sejak satu setengah jam yang lalu.
Selesai sengan keherananku di halaman belakang. Aku masuk kembali ke dalam rumah dan mendapati pintu kamar Mbah Kakung terbuka. Langsung saja aku masuk tanpa ragu.
Di kamar ini keanehan makin jelas terlihat. Sekarang kamar ini mempunyai bau lebih wangi dari sebelumnya. Ada kotak pengharum ruangan beraroma Jeruk di atas meja rias.
Ada deretan kosmetik lengkap disana. Bedak, lipstik dan minyak wangi aroma Mawar. Merknya persis dengan yang sering dipakai Almarhumah Mbah Uti waktu masih gesang. Melihat semua ini aku malah menjadi takut. Jangan-jangan benar Mbah Kakung sudah tidak waras lagi. Apa kehilangan istri tercintanya membuat dia tak bisa mengendalikan diri.
Sementara ku lihat isi lemari. Ada banyak sekali pakaian wanita disana. Segera saja ku tutup lemari dan kumundurkan langkahku. Kutinggalkan kamar Mbah Kakung.
Aku kembali ke ruang tamu. Disana Mbah Kakung masih saja tertidur. Segera kumatikan radionya karena aku tak suka mendengarkan pengajian yang menurutku sangat membosankan.
Mbah Kakung sudah pintar masalah agama, pantas saja dia tertidur kalau hanya mendengarkan ceramah monolog yang sama sekali tak ada feedback dari pendengarnya. Tak ada bantahan untuk isi ceramahnya. Sudah seperti yang paling benar saja sehingga banyak orang harus pasif mendengarkan doktrin-doktrin agama darinya.
“Kung, pindah ke kamar saja .
Di kasur lebih empuk . .
Mbah Kung . .”
Sudah ku tepuk-tepuk tangannya dengan lembut agar dia tidak kaget saat terbangun. Aku tak mau lagi kehilangan Mbah Kakung karena kesalahanku membangunkannya dengan serangan jantung.
“Assalamu’alaikum . .”
Terdengar suara salam bernada lembut dari luar rumah. Srek srek, suara langkah kaki semakin jelas mendekat. Sepertinya aku kenal suara perempuan itu.
“Wa’ . .
Wa’ . .
Wa’alaikumsalam . . .”
Terbelalak mataku, seperti berhenti detak nadiku. Kudapati seorang wanita di depan mataku.
“Mbah Uti . .”
Bibirku berucap lirih serta merta air mataku menitih. Langsung saja ku hampiri dan ku peluk wanita tua yang membuatku seperti terkena serangan jantung.
Baju putih polos dan di dada kanannya bertuliskan “Muslimat NU” itu membuatku sadar kenapa kakekku setia mendengarkan pengajian membosankan di radio sedari tadi.
“Ini Aisyah ya ?”
Tanyanya lembut. Tapi aku masih saja diam tak percaya dengan apa yang aku lihat saat itu. Mataku terpaku dan lidahku kaku.
Langsung saja pikiranku melayang kemana-mana. Foto janggal di atas meja, pakaian-pakaian perempuan di jemuran dan juga di lemari, lalu kosmetik di kamar Mbah Kakung.
Ini seperti mimpi, wajahnya mirip sekali. Hanya beda tahi lalat di pipi kiri. Oh ya, ini yang membuatku berfikir sangat lama tentang kejanggalan dalam foto yang aku kira dalah foto tadi.
“Sudah ketemu Mbah Uti yang baru, Nduk ?”
Sms dari ayahku lagi.





Kamis, 21 Maret 2013

rinduku dahulu, begitu..



dalam hening rindu, sering aku bertanya . .
tentang rinduku yang dahulu . .
padamu, begitu . . .

ingatkah dulu katamu,
“jangan sampai kau membenciku seperti kau membenci musuh besarmu.. “
ingatkah ?
ingatkah dulu kau begitu ?

lalu ingatkah kau pada kataku,
“berfikirlah seakan-akan kau menjadi orang yang kau bicarakan, maka kau akan tahu..”
ingatkah ?
ingatkah kau, dulu aku begitu ?

sudahkah berfikir ?
jika semua kembali pada masa lalu,
maka kita tidak akan pernah menjadi dewasa

sudahkah berfikir ?
kalau semua berada pada kebenaran yang sama
maka kita tidak akan pernah menjadi manusia

sudahkah berfikir ?
adalah mereka (setan) yang sedang menari dalam aliran darah kita
maka kemudian kitalah yang harus melawan

lalu,
“mencari cerita lain ? agar orang lain menyangka lain ?
ayolah, berhenti mencari-cari pembenaran !”

jadi,
sudahkah kita berdua berfikir ?

Kamis, 14 Maret 2013

Sajak Rindu


Sajak Rindu

Ini tentang kerinduan
Bagaimana dia meracau lembut melalui sajak-sajak sendu
Lewat coretan-coretan lirik yang tak pernah menjadi lagu

Ini semua tentang kerinduan
Ku lihat betapapun kuat dia menahannya
Tetap meledak keluar dan semua orang mengetahuinya

Ini tentang seseorang yang tak kunjung bisa dia temui
Ini tentang dia yang meminta maaf, merayu, mendayu-dayu tak berhenti
Ini tentang dia yang merindu setengah mati

Kamis, 28 Februari 2013

MOST WANTED :(

I Said I Was


ini tentang bagaimana aku menyembunyikan kesedihanku . .^_^

But, I Said I Was 

pernah di suatu malam purnama, 
aku berkaca pada beningnya laut.. 
aku merubah wajahku agar sama cantiknya dg sang bulan, 
menjadikan warnaku lebih terang berbinar, 
melebarkan senyumku menyenangkan mereka,

pernah di saat aku mulai tertutup larut,
aku berbalik sejenak dari dunia,
kembali mengoles bedak keceriaan di wajahku yang mulai berkerut,
memolesnya sampai menjadi lebih tebal,
bahkan sangat tebal layaknya mereka yang berjaja di tengah malam bersama dinginnya dosa,

pernah aku seperti itu,
pernah aku begitu,
aku pernah menjadi bukan aku..


Minggu, 17 Februari 2013

Definisi Cinta



aku bilang ini puisi bagaimana aku mengartikan Cinta 
aku buat ini waktu aku diskusi kecil sama temen-temenku lewat status dan koment2an di FB
jadinya kepikiran bikin puisi "aneh" kayak gini
hehehe
enjoy it ,

DEFINISI CINTA^_^

Cinta
Mereka bicara tentang definisi cinta
Dengan cara masing-masing
Dengan gaya masing-masing
Dengan menggebu-gebu

Mereka menyuarakan pendapat mereka tentang satu kata ini
Satu kata penuh makna, katanya
Satu kata penuh emosi, katanya

Mereka bilang cinta itu anugerah Yang Kuasa
Yang sejatinya satu dari Dia dan kita adalah pengemisnya
Mereka bilang cinta itu tak bisa memiliki
Dimana pasrah menjadi pijakan terakhir saat cinta itu tak mau lagi dipaksa
Mereka bilang . . .
Ahh . .

Cinta itu ya lidah kita
Terserah dia mau menerjemahkannya seperti apa
Biarkan dia mengucapnya menjadi kalimat sedetail apa

Cinta, ya Cinta
Mereka bilang Cinta . .

Improvisasi Untuk Cinta yang Sunyi


ini puisi Agus Noor yang OKE Poenya .  :)
dibacain sama musisi Erdian Aji Prihartanto alias Anji (ex Drive) dengan iringan gitar bernada tipis mengiris, 
syahdu . .
kalian musti baca . . :))

Improvisasi Untuk Cinta yang Sunyi


Sajak ini hanyalah caraku mengingatmu, sebuah cinta yang tak lazim
sebab diingatan ku engkau daun yang tak pernah digugurkan musim 
kau telah menjadi cahaya yang lembut, cahaya yang rela menenggelamkan diri kejantung duri

Pertama, akan kuingat mata mu yang selalu merekam kenangan, hujan, dan keruntuhan
juga semua kesedihan yang tak sebentar
tapi aku percaya ketika sebuah kesedihan mekar dalam hati mu, kau akan tau seindah apa aku mencintaimu
tentu saja tak akan ku lupakan bibir mu, surga pertapaan ku dimana selalu ku basuh lidahku dengan gairahmu

kita adalah pezinah yang suka mengelabui sunyi kata mu, sebelum mengulang cerita tentang jantung hitam pezinah yang dirajam diabad-abad hitam, yang tak pernah ingin kita ziarahi
Kenapa Tuhan? menjauh....
mesti ada surga bila yang nikmat adalah dosa,
kau bertanya ”untuk apa kau samarkan kebohongan mu kedalam ciuman? Jika cinta kita tak lebih baik dari dusta” tapi kita memang hidup dinegara yang dibangun  dengan dusta bukan?

Kita tak lebih sepasang angsa hitam pengap harap menanggung kesaksian dan keasingan masing-masing, dikota kota yang dikuasai pendosa berjubah

Maka kekasih ku....
ketabahan ialah kamu yang rela mencintai ku dalam gelap
itulah sebabnya aku selalu suka membayangkan kita hidup dikota yang dibangun dengan ribuan ciuman dan sepasang jarum jam, ialah tangan kita yang saling berpelukan
“Lalu cinta?” tanya mu....
Cinta.... cinta seperti juga Tuhan, kadang hanya dibutuhkan saat kita merasa kesepian
Punggung mu... iya punggung mu, bagaimana mungkin ku lupakan punggung mu yang ku bayangkan bersayap paling cantik
ketika gaun mu kau lepaskan dan kita saling telanjang, hanya untuk berbagi kesedihan
sebab seperti kelekap pada batu, kudekap tubuhmu tapi tak kunjung mampu ku sentuh kedalaman jiwa mu, kita bercinta seakan ingin melupakan hujat dunia
sementara ku masuki tubuhmu, sunyi juga yang kutemui.

Kini...
biarkan ku kenang pipi mu yang menghamparkan langit bagi segala kerisauan ku
sedang kulitmu yang halus telah melekat hangat dikulitku
kemanapun pergi aku seperti selalu mengenakan tubuh mu, dibawah tubuh mu aku berlindung dari nikmat yang terkutuk
kedalam ciuman mu aku pasrah dan takluk
Sentuhlah bagian tubuh ku yang menurut mu paling lembut disitu akan kau rasakan kerinduan ku lebih tabah dari maut

bila kita dianggap lebih laknat dari pezinah, aku tidak lagi takut
maka aku berterima kasih pada ketabahan mu mencintaimu, menghadapi yang aku mungkin tak mampu sendirian menanggungnya
Aku mencintai mu... ya, tentu saja mencintai mu
meski tak pernah yakin untuk  apa semua ciuman kita yang gelap dan penuh dosa
“Jangan takut jatuh cinta pada ku” katamu...
jatuh cinta... pelajaran terbaik untuk tabah, sebelum dan sudah sakit
tapi bila kau memilih pergi... pergi lah, pada akhirnya kau akan kembali pada hati yang mencintai mu
lalu kau mencium ku... tapi apa yang hendak kau kekalkan dengan ciuman
Dalam cinta kehilangan hanyalah soal mengingat dan melupakan
adakah yang belum ku mengerti dari kisah ganjil cinta kita ini
sebagai manusia kita bukan yang lain, kita sama dalam segala
kecuali cinta...

Tapi apa yang kita harapkan dari kisah ganjil ini
tidak kah kau mengerti pada suatu hari segala kepedihan kita tak akan lagi tertampung pada puisi ini
ketika kau sayat nadi menetes perih
pergi lah.... pergi lah.....
bila nanti kau pergi tinggal lah abadi ditubuh ku ini. ^_^