JILBAB
( ISLAM ATAU BUDAYA??? )
Dakwah adalah Islamisasi, proses membawa Islam menjadi nyata, menyampaikan pesan-pesan religious kepada umat agar mendapat kebahagiaan di dunia hingga akhirat.
Budaya lahir karena keberadaan manusia yang menciptakan bermacam-macam kegiatan, menciptakannya kemudian melestarikannya.
Islam dan budaya seperti sudah menjadi satu kesatuan yang tercipta karena kegiatan manusia. Banyak yang dilakukan manusia dalam kehidupan beragama Islam yang kemudian menjadi budaya, meskipun kadang ada yang tidak setuju jika hal-hal tersebut adalah produk manusia, karena dianggap hal tersebut memang sudah ada dan menjadi ajaran dalam Islam. Contohnya adalah berjilbab, menggunakan mukena (rukuh) yang berwarna putih (bagi perempuan) ketika sholat.
Banyak yang memperdebatkan masalah jilbab atau menutup aurat bagi perempuan dalam agama Islam. Ada yang bilang kalau memakai jilbab adalah budaya orang-orang Arab dan Timur Tengah dan bukanlah termasuk ajaran syariat Islam. Di Indonesia sendiri, memakai jilbab juga berbeda cara dengan orang-orang di negeri Arab. Disini, menggunakan jilbab bukan hanya sebagai sarana menjalankan syariat agama, yaitu menutup aurat, tetapi juga sudah menjadi tren dalam berbusana dan bahkan, banyak juga yang memakai jilbab hanya pada waktu-waktu tertentu dan ikut-ikutan.
Jilbab dan cadar berasal dari budaya Timur Tengah, para wanita disana yang bukan beragama Islampun juga menggunakan jilbab. Jilbab disana digunakan untuk melindungi tubuh mereka dari serangan pasir karena disana adalah daerah gurun. Jilbab disana juga tidak hanya dipakai oleh wanita, tetapi pria juga memakainya. Karena sudah sering memakai dan menjadi kebiasaan turun temurun, maka jilbab menjadi satu kebudayaan yang ada disana.
Di Arab sendiri, sebelum agama Islam ada, wanita-wanita Jahiliah disana sudah menggunakan jilbab sebagai pakaian mereka. Hanya saja mereka memakainya dengan membiarkannya menjuntai kebelakang dan bagian lehehr dan dada mereka tetap terbuka. Maka setelah Islam datang, syariat segera membenarkan cara memakai jilbab yang menutup aurat. Di Indonesia, Negara kita tercinta, memakai jilbab masih menjadi perdebatan panjang. Ada yang mewajibkannya dan ada yang tidak menurut beberapa aliran dalam Islam. Mungkin jika dulu Islam pertama lahir di Indonesia, bisa saja budaya pakaian batik atau kebaya hilang. Maka, karena jangan pernah mengatakan bahwa budaya Arab adalah budaya Islam, karena Islam dilahirkan ditanah Arab bukan berarti semua yang ke-Arab-arab-an adalah ajaran Islam. Tidak !!!
Saya akan memberikan satu contoh kecil,
Ada seorang wanita muslimah, diapun bekerja di sebuah institusi Islam yang terkenal, yang setiap hari dia bekerja harus memakai jilbab. Dirumahpun juga memakai jilbab. Suatu hari dia dan suaminya mendapatkan undangan untuk menghadiri sebuah acara di sebuah club (tempat hiburan), dia dating ke acara tersebut dengan berpakaian biasa (bukan busana muslim) dan tentu saja tidak berjilbab.
Disana dia dilihat oleh seorang teman dan kemudian sang teman dating kerumah dan menceritakan apa yang dia lihat, bahwa suaminya pergi ke club bersama seorang wanita tidak berjilbab. Kemudian si wanita membuka jilbab di depan temannya dan menunjukkan bahwa yang sebenarnya dia lihat adalah si wanita itu sendiri.
Disini dapat diartiakan bahwa di Indonesia, berjilbab juga masih melihat konteks suasana dan tempat, belum sepenuhnya karena mengikuti syariat Islam.
Banyak wanita di Indonesia tidak memakai jilbab meski mereka beragama Islam. Alasan mereka antara lain adalah karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskan mereka untuk tidak memakai jilbab. Meski tidak berjilbab, mereka tetap umat Islam yang tekun beragama, mendirikan sholat, puasa dan sebagainya. Jika ditanya lagi, alasan mereka kebanyakan adalah, “ jilbabi dulu hatinya, baru fisiknya. .”. Meski banyak juga wanita Indonesia yang berjilbab, kadang mereka sendiri tidak tahu alasan yang membuat mereka memakainya. Karena ikut-ikutan, agar merasa cantik, melindungi kepala dari panas atau disuruh mama???.
Dalam Islam, selain untuk menutup aurat yang disyariatkan, memakai jilbab juga melindungi wanita dari kejahatan fitnah dan kejahatan social, misal pemerkosaan. Wanita berjilbab akan terlindungi karena tidak memamerkan auratnya. Tetapi jika diperdebatkan, mungkinkah wanita berjilbab bisa juga mendapatkan kejahatan diperkosa karena pelaku kejahatan tidak melihat bagaimana dia berpakaian tetapi karena dia mendapat kesempatan.
Di Arab memakai jilbab adalah hasil budaya yang telah disempurnakan Islam, sedang di Indonesia memakai jilbab masih berupa perdebatan, meski jelas bahwa menutup aurat (dengan jilbab) adalah syariat Islam. Islam dating tidak untuk merubah budaya, tetapi menyempurnakannya agar masyarakat mempunyai perdaban yang lebih tinggi. Jilbab bukan hanya menutup aurat bagi muslim perempuan tapi juga menjaganya dari berbagai kejahatan yang muncul akibat kesalahan perempuan sendiri karena tidak menjaga apa yang dimilikinya.
Memakai jilbab adalah salah satu cara muslim wanita menutup aurat, meski bukan merupakan ajaran Islam murni, karena jilbab adalah hasil peradaban bangsa Arab, tapi jilbab adalah penting dan berarti sama dengan menjalankan syariat. Jadi jangan mengartikan bahwa wanita muslim boleh tidak berjilbab karena bukan ajaran Islam sebenarnya, karena apapun itu, jilbab yang merupakan budaya Arab adalah sesuatu yang telah disempurnakan oleh agama kita tercinta, dan kita memandang secara subjektif terhadap saudara-saudara kita yang tidak berjilbab, karena belum tentu mereka tidak tahu ajaran agama Islam yang benar, tetapi anggap bahwa ada alasan yang membuat mereka belum bisa sepenuhnya melaksanakan syariat Islam. Kita yang telah faham harus tetap mengikuti dan mempertahankannya agar tercipta kehidupan yang Islami.

Islam belum tentu Arab, dan sebaliknya ...
BalasHapusItu mungkin bisa menjadi pertanyaan yang reperesentatif terhadap permasalahan tersebeut. Bagaimanapun juga Islam lahir tidak serta murni sebagai "produk" otentik Tuhan pada masa itu. Seperti sebuah teori dalam sosiologi, pada hakekat yang paling esensi agama adalah bagian dari budaya. Ya!, budaya, bersifat sektoral atau sektarian dan terikat konteks ruang dan waktu. Tapi yang terpenting di setiap perkembangan peradaban, kita harus dapat menempatkan agama sebagai suatu hal yang bersifat fleksibel dan tidak alergi dengan dinamika peradaban manusia dan tidak menjadikan agama sebagai "blue print" yang sangat kaku dan rigid. Terima kasih.....!Salam Ordus Irwanus... hehehe
terima kasih komentarnya..
BalasHapusmemang harus belajar lebih dalam kalo yang dibicarakan adalah tentang agama..
harus benar-benar menilik unsur-unsur dan artinya secara hakiki yg ada di dalam sebuah agama, apalagi Islam..
kebanyakan pemuda sekarang mempelajari filsafat agama tidak secara mendalam yang akhirnya malah menyeburkan mereka pada Atheisme.. itu yang saya tahu..
Salam .:)