FILM SEBAGAI MEDIA DAKWAH
- PENDAHULUAN
Dewasa ini seringkali kita melihat atau bahkan terlibat dalam suatu kegiatan dakwah islamiyyah di masyarakat sekitar kita. Namun seringkali kita mengabaikan efektifitas dari kegiatan dakwah tersebut. Bahkan sudah menjadi rahasia umum bahwa kegiatan dakwah yang ada terkesan monoton. Monoton disini berati adanya suatu metode dari dakwah tersebut dinilai kurang memberikan efek yang besar bagi para mad’u dalam menerima informasi.
Maka sudah sepatutnya para pelaku dakwah beralih dari formula dakwah yang sudah lazim dilakukan. Seperti halnya dakwah bil Lisan. Kegiatan dakwah ini yang notabene marak dimasyarakat bukan berarti bernilai tidak baik. Namun jika kita lihat dari efektifitas penerapan informasi dari kegiatan dakwah tersebut sangatlah kurang memadai jika kita lihat maraknya informasi sekuler yang menerpa kita sehari-hari. Oleh karena itu menjadi keharusan adanya strategi baru dalam pelaksanaan suatu kegiatan dakwah.
Fenomena tersebut adalah indikasi dari kurang efektifnya kegiatan dakwah yang akhir-akhir ini dilakukan para pelaku dakwah. Kita lihat sejarah dakwah islam di negeri ini. Sejarah mencatat, media dakwah melalui seni dan budaya pada masa itu adalah dakwah yang efektif dan terasa signifikan dalam hal penerapan ideologi Islam pada masyarakat pada zamannya. Seperti halnya media film. Film adalah media yang begitu pas dalam memberikan influence bagi masyarakat umum. Penonton film seringkali terpengaruh dan cenderung mengikuti seperti halnya peran yang ada pada film tersebut. Maka ini dapat menjadi peluang yang baik bagi pelaku dakwah ketika efek dari film tersebut bisa diisi dengan konten-konten keislaman.
- PROFIL
A. Mengenal Film
Film adalah hasil peradaban manusia yang dicipta melalui proses kreatif dengan melahirkan impian (imajinasi) melalui teknologi yang hasilnya dapat disaksikan semua orang. Film mengangkat peristiwa apa saja yang terjadi di sekitar kita, peristiwa terkini dan peristiwa masa lalu bahkan impian-impian masa depan (futuristik) yang belum atau tidak pernah terjadi dan melanda peradaban manusia.[1]
Film menjadi media yang sangat berpengaruh, melebihi media-media yang lain, skarena secara audio dan visual dia bekerja sama dengan baik dalam membuat penontonnya tidak bosan dan lebih mudah mengingat, karena formatnya yang menarik.
Proses pembuatan film melalui tiga tahap; pra produksi, produksi, dan pasca produksi. Tiga hal ini tidak melulu harus berurutan seperti diatas, bisa dibolak-balik tergantung kebutuhan pengerjaan film. Pra produksi mencakup penulisan ide sampai menyiapkan sinopsis atau cerita. Kemudian tahap produksi (syuting) akan melaksanakan semua yang sudah dipersiapkan pra produksi. Dan yang terakhir adalah pasca produksi yang akan merangkai semua yang ada dari pra produksi dan produksi. Proses yang paling berat adalah pra produksi, bahkan sering dikatakan ketika pra produksi selesai maka film itu sudah 70% jalan dan kedua proses selanjutnya tinggal melanjutkan 30%.
B. Jenis-jenis Film
Secara umum, film bisa dibedakan menjadi beberapa jenis, antara lain :
1) Film Laga (Action)
Jenis film ini biasanaya berisi adegan – adegan berkelahi yang menggunakan kekuatan fisik atau supranatural yang biasanya didominasi oleh aktor.
2) Film Petualangan (Adventure)
Jenis film ini biasanya berisisi cerita seorang tokoh yang melakukan perjalanan, memcahakan teka teki, atau bergerak dari titik A ke B.
3) Film Komedi (Comedy)
Tanpa dijelaskan pasti anda semua mengerti, film ini biasanya tidak terlalu memperhatikan logika cerita.
4) Film Kriminal (Crime)
Jenis film ini berfokus pada kehidupan seorang penjahat.
5) Film Dokumenter
Jenis film yang dibuat berdasarka suatu kisah nyata tanpa setting fiksi.
6) Film Fantasy
Jenis Film ini biasanya didominsai oleh situasi yang tidak biasa dan cenderung aneh.
7) Film Horor
Jenis film ini menghibur penontonnya dengan mengaduk – aduk rasa takut si penonton film itu.[2]
C. Film Sebagai Media Dakwah
Dakwah merupakan kewajiban setiap muslim. Karena film dianggap cukup efektif untuk mengubah karakter masyarakat, maka nilai-nilai dakwah mumpuni untuk dimasukan dalam skenario yang kemudian diperankan oleh para pemainnya. Meski tidak bersifat mendalam dan komprehensif dalam penyampaian dakwahnya, para pemain biasanya memerankan seolah-olah menjadi sosok sebenarnya dalam film itu.
Salah satu sifat keberhasilan dakwah adalah mampu berubah sikap kejiwaan seseorang. Dari tidak yang kenal dan paham ajaran Islam menjadi kenal dan paham, dari tidak mau beramal saleh menjadi rajin berusaha melakukannya, dari cinta melakukan hal yang maksiat menjadi sering menjauhinya.[3]
Film-film Indonesia selama dua dekade (1980-an dan 1990-an) terpuruk sangat dalam. Insan film Indonesia seperti tak bisa berkutik menghadapi arus film impor. Masalah yang dihadapi harus diakui sangatlah kompleks.
Mulai dari persoalan dana, SDM (Sumber Daya Manusia), hingga kebijakan pemerintah. Persoalan ini dari tahun ke tahun semakin melebarkan jarak antara film, bioskop dan penonton, tiga komponen yang seharusnya memiliki pemahaman yang sama terhadap sebuah industri film. Dan itu menjadi suatu tantangan pagi para sineas film dakwah.
Di awal millenium baru ini tampaknya mulai ada gairah baru dalam industri film Indonesia terutama film yang mengusung tema Dakwah. Seperti halnya film Kiamat Sudah Dekat, Kun Fa Yakun, Perempuan Berkalung Sorban, Ketika Cinta Bertasbih, Hingga film Ayat-ayat Cinta yang begitu fenomenal akhir-akhir ini semakin memberikan peluang bagi para sineas dakwah.
Kenyataan ini cukup memberi harapan bagi para sineas-sineas dakwah, karena tidak hanya film yang ber-genre-kan horor, percintaan remaja atau komedi berbalut seksualitas yang bisa diterima masyarakat umum namun film yang bernuansakan Islam pun laku untuk diedar. Maka hal tersebut bisa menjadi suatu modal besar bagi para sineas dakwah dalam mengtransformasikan nilai keislaman.
pada media ini. Sejarah mencatat, media dakwah melalui seni dan budaya pada masa itu adalah dakwah yang efektif dan terasa signifikan dalam hal penerapan ideologi Islam pada masyarakat pada zamannya. Seperti halnya media film. Film adalah media yang begitu pas dalam memberikan influence bagi masyarakat umum. Penonton film seringkali terpengaruh dan cenderung mengikuti seperti halnya peran yang ada pada film tersebut. Maka ini dapat menjadi peluang yang baik bagi pelaku dakwah ketika efek dari film tersebut bisa diisi dengan konten-konten keislaman. Film bisa menjadi suatu tontonan yang menghibur, dan dengan sedikit kreatifitas kita bisa memasukan pesan-pesan dakwah pada tontonan tersebut seperti hanya para pendahulu kita. Film merupakan media komunikasi yang ampuh, bukan saja untuk hiburan, tetapi juga untuk penerangan dan pendidikan.[4]
Film berperan sebagai pengalaman dan nilai. Kegiatan pengtransformasian ajaran Islam akan dinilai sia-sia apabila para pelaku dakwah tidak memanfaatkan media sebagai suatu kekuatan dalam pelaksanaan dakwah kontemporer. Oleh karena itu, film bisa menjadi suatu solusi ketika masyarakat mengalami suatu stagnansi dalam penerimaan informasi keislaman.
Agar umat islam Indonesia jangan terjebak oleh tontonan-tontonan yang mengatasnamakan “cerita islam”, yang pada kenyataanya hanya mengeksploitasi umat islam untuk berbondong-bondong ke bioskop sehingga mengangkat rating film tersebut. Maka perlu ada penyatuan persepsi dari tokoh islam (Cendikiawan, ulama, akademisi islam ) dengan para sutrada dan produser film islam, guna menemukan definisi dan format film islam yang sebenarnya, dan sesuai dengan konteks agama dan realitas social masyarakat.
- ANALISIS
a. Strong
Film adalah media yang begitu pas dalam memberikan influence bagi masyarakat umum. Penonton film seringkali terpengaruh dan cenderung mengikuti seperti halnya peran yang ada pada film tersebut. Maka ini dapat menjadi peluang yang baik bagi pelaku dakwah ketika efek dari film tersebut bisa diisi dengan konten-konten keislaman. Film bisa menjadi suatu tontonan yang menghibur, dan dengan sedikit kreatifitas kita bisa memasukan pesan-pesan dakwah pada tontonan tersebut
film dianggap cukup efektif untuk mengubah karakter masyarakat, maka nilai-nilai dakwah mumpuni untuk dimasukan dalam skenario yang kemudian diperankan oleh para pemainnya. Meski tidak bersifat mendalam dan komprehensif dalam penyampaian dakwahnya, para pemain biasanya memerankan seolah-olah menjadi sosok sebenarnya dalam film itu.
b. Weakness
Filmnya memang banyak yang kelihatan Islam, padahal dia sama sekali tidak Islami. Karena yang bikin bukan orang Islam. Saya sedih melihat umat Islam Indonesia ini begitu pasif dalam dunia film. Sampai dalam syiar agamanya pun meminta bantuan kepada kaum non-Muslim.
Karena minimnya pengetahuan umat Islam dalam perfilman, tiba-tiba yang masuk ke koridor itu bukan orang Islam. Pedagang yang bukan dari kalangan Islam yang masuk ke sana. Akibatnya, salah kaprahlah nilai Islam di layar kaca. Sehingga, kesannya Tuhan orang Islam kejam, tidak rahman dan rahim. Akan tetapi, mereka tidak sepenuhnya salah. Justru umat Islam yang tidak sepenuhnya paham dengan agamanya yang kadang membuat sebuah film menjadi salah penafsiran dan salah kaprah dalam penggambaran Islam.
c. Opportunity
Film merupakan media komunikasi yang efektif dalam mengkomunikasikan nilai-nilai kepada masyarakat sehingga prilaku penonton dapat berubah mengikuti apa yang disaksikannya dalam berbagai film yang disaksikannya. Melihat hal demikian film sangat memungkinkan sekali media film digunakan sebagai sarana penyampai syiar Islam kepada masyarakat luas.
d. Threatment
Film sejak lama telah menjadi media propaganda dalam menyebarkan suatu pemahaman kepada masyarakat. Dengan caranya yang halus (audio visual) film mampu membentuk opini publik tanpa disadari oleh khalayak. Tidak aneh kemudian film yang pada mulanya dianggap sebagai tontonan berubah menjadi tuntunan.
Berbicara tentang film sebagai media propaganda, Hollywood merupakan ikon film propaganda dunia saat ini. Industri hiburan produk Amerika Serikat ini seringkali membentuk stigma tentang masyarakat atau budaya di luar mereka, tak terkecuali Islam dan umat Islam. Usai berakhirnya perang dingin yang dimenangkan kapitalisme Amerika atas komunisme Uni Sovyet, blok Barat membidik Islam sebagai musuh berikutnya. Film kemudian menjadi media paling ampuh membentuk citra negatif Islam, sekalipun ada juga beberapa di antaranya yang tetap objektif memperlihatkan kebenaran Islam. Bila dikelompokkan, film Hollywood yang bercerita tentang Islam terbagi kepada tiga jenis, antara lain :
1. Film yang menggambarkan citra buruk Islam, misalnya film Alladin (1992). Dalam film ini Islam dicitrakan sebagai budaya terbelakang yang memberlakukan hukuman, menurut orang Barat, tidak manusiawi, yaitu potong tangan. Film True Lies (1994) dan The Siege (1998) tidak kalah buruknya. Keduanya mencitrakan orang Arab dan Islam sebagai teroris.
2. Film yang memperlihatkan Islam secara positif. Beberapa di antaranya The Messenger (1976), Lion of the Dessert (1981), Robin Hood: Prince of Thieves (1991), dan Kingdom of Heaven (2005). Film-film tersebut menggambarkan tokoh Muslim yang memiliki jiwa mulia.
3. Film yang bersifat netral, tidak menjelek-jelekkan tapi juga tidak memuji Islam. Ini seperti Malcolm X (1992) dan Ali (2001) yang bercerita tentang biografi dua tokoh black Muslim Amerika. Dari tiga jenis film Hollywood di atas, jenis pertama saat ini semakin gencar diproduksi dan disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia. Hal ini tentunya membawa implikasi serius bagi umat berupa citra buruk di mata masyarakat internasional. Apalagi, kemudian terorisme dan berbagai bentuk kekerasan kerap muncul di negara-negara Islam. Citra tersebut pun semakin tertancap kuat.[5]
Di Indonesia, film Islam atau film dakwah termasuk barang langka. Dulu pernah muncul Cut Nyak Dien, Alkautsar, Titian Serambut Dibelah Tujuh, Nada dan Dakwah, serta Fatahillah. Namun, film-film seperti ini kemudian menghilang seiring dengan matinya perfilman Indonesia. Saat ini film layar lebar mulai bangkit kembali. Hanya saja isinya cenderung kontraproduktif dengan dakwah Islam. Saat ini yang sering muncul dan laku di pasaran adalah film-film berisi pesan pergaulan bebas.
Jadi di sini dapat sedikit disimpulkan tentang ancaman yang akan terjadi pada film sebagai media dakwah antara lain:
· Film telah menjadi media propaganda dalam menyebarkan suatu pemahaman kepada masyarakat.
· Umat Islam seringkali hanya menjadi konsumen dan objek sasaran industri kapitalisme hiburan dunia.
· Produksi film bernuansa Islami di Indonesia justru merosot.
- PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat penulis sampaikan. Dalam penulisan makalah ini tentunya penulis masih sangat membutuhkan kritik dan saran yang konstruktif dari pembaca agar kelak dapat lebih baik lagi. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca umumnya dan bagi penulis khususnya. Amien.
DAFTAR PUSTAKA
Maladi, Agus, dkk.2008. Memproduksi Film. Semarang: DINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA PROVINSI JAWA TENGAH
FILM SEBAGAI MEDIA DAKWAH
Makalah
Disusun Guna Memenuhi
Tugas Akhir Semester Mata Kuliah : Media Dakwah
Dosen Pengampu : M. Alfandy
![]() |
Disusun Oleh :
Laili Marya Ulfa 091211043
FAKULTAS DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011
[1] Agus Maladi, dkk. Memproduksi Film. Semarang: DINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA PROVINSI JAWA TENGAH. 2008. Hlm. 1
[2] http://klikdokumenter.blogspot.com/2010/11/film-sebagai-media-dakwah-oleh-rizky.html
[3] http://www.wartaislam.com/index.php?option=com_content&view=article&id=2488:plus-minus-film-religi-kita&catid=29:wawancara&Itemid=541
[4] http://klikdokumenter.blogspot.com/2010/11/film-sebagai-media-dakwah-oleh-rizky.html
[5] http://mengaisilmu.blogspot.com/


thanks sudah mencantumkan referensi nya.
BalasHapusiya, sama2... semoga bermanfaat :)
BalasHapus