Sampai juga aku di depan rumah ini. Besar tapi terlihat sepi. Pohon
Mangga yang menjulang tinggi dan daunnya yang lebat menambah suasana teduh pun
menjatuhkan daunnya seakan menyambut kedatanganku. Ya, sudah lama aku tak
kesini sejak Mbah Uti meninggal.
Segera kumatikan mesin kendaraanku yang sudah sangat panas karena
perjalanan jauh. Ku letakkan helm batok kesayanganku di kaca spion sebelah
kanan, sementara yang kiri aku gunakan untuk berkaca dan membenarkan rambutku
yang berantakan karena terlalu lama memakai helm.
Dari luar rumah sudah terlihat, pintu utama yang selalu dibiarkan
terbuka membuatku dengan jelas melihat Mbah Kakung sedang duduk di kursi
goyangnya di dekat jendela. Bertelanjang dada layaknya atlet binaraga, tak
sadar saja badannya yang makin kurus seperti tidak terurus. Disebelahnya
terdapat meja yang diatasnya ada radio tape tua tapi suara yang dihasilkan
speakernya masih terdengar jernih tanpa noise meskipun dari kejauhan. Sambil
mengebulkan asap cerutunya, dia terlihat asyik menggeleng-gelengkan kepala
pertanda sangat menikmati music tayub kesayangan yang khas di tengah terik
siang.
“Cucuku, kaukah itu ?”
Suara lirih agak bergetar terdengar dari bibir yang sudah keriput.
Mungkin karena terlalu sering menghisap cerutu, pikirku.
“Iya, Kung .
Ini Aisyah”.
Jawabku sambil berjalan memasuki rumah yang pernah menjadi tempat
bermain diwaktu kecilku.
Keadaannya tidak berubah, masih dengan dinding kayu jati yang
dipertahankan. Bercatkan warna hijau tua, khas warga Nahdliyin. Setidaknya itu
kata Mbah Kakungku kalau ditanya kenapa dia sangat menyukai warna yang seperti
lumut batu itu.
Di dinding masih tertempel lukisan-lukisan Ulama dan pahlawan-pahlawan
besar. Dari Hasyim Asy’ari, Ahmad Dahlan, sampai Abdurrahman Wahid. Kuraih
tangan kanannya, kusalami lalu kukecup mesra sebagai rasa hormatku padanya.
“Mbah sehat ?”, tanyaku basa-basi meskipun aku sudah tahu dari keadaan
badannya yang terlihat makin kurus kerempeng itu.
“Alhamdulillah, kalau kamu masih bisa melihatku disini berarti aku masih
baik-baik saja”. Tandasnya tegas.
Aku hanya bisa mengernyitkan dahi dan tersenyum untuk kebohongannya kali
ini. Aku tahu pasti ada sesuatu yang membuat Mbah Kakung mewajibkanku datang
kerumahnya hari ini. Tapi tak bisa kutebak apa yang akan diberikannya padaku.
Sementara di atas meja, aku lihat selembar potret dengan gambar
Almarhumah Mbah Uti. Wajahnya terlihat segar berseri di poto itu. Senyumnya
lebar dan manis membuatku berpikir mungkin inilah yang membuat Mbah Kakung
menjatuhkan hati padanya.
Semakin lama kupandangi potonya, semakin ku rasa ada perbedaan yang aku
lihat di wajah Mbah Uti. Sambil kukibas-kibaskan potonya, aku terus berfikir.
Apa yang beda dari wajah Mbah Uti di foto ini. Tapi ah, Mbah Uti sudah tenang
disana. Aku yakin bersama Tuhan wajahnya lebih cantik dan bersinar dibanding
yang aku lihat di gambar tak bergerak ini.
Ku tinggalkan Mbah Kakung yang masih asyik dengan radio kesayangannya.
Aku susuri setiap pojok ruangan di rumah besar ini. Masih sama seperti dulu,
televisi di ruang tengah dan didepannya tergelar kasur lantai warna biru motif
bunga.
Di dinding belakang berjejer rapi foto-foto keluarga. Tapi saying frame-nya
penuh debu seperti tidak pernah dibersihkan. Wajahku dan ayah ibuku terlihat
kumal, jelek sekali.
“Sebenarnya siapa keluarganya ?
Hasyim Asy’ari dan kawan-kawannya atau anak-anaknya sendiri yang lebih
penting ?”
Gerutuku karena melihat lukisan-lukisan pahlawan terlihat lebih bersih
dan kinclong daripada foto keluarga. Tapi tak apa, yang penting kami masih
selalu ingat untuk berkunjung saat weekend tiba. Bukan sekedar gambar yang
terpampang tak bersuara.
Ku hampiri lagi Mbah Kakung yang masih juga belum beranjak dari posisi
nyenyaknya. Suara music tayub sudah berubah menjadi siaran pengajian. Siaran
langsung dari Pondok Pesantren Al-Ma’ruf Bandungsari, tempat kakek, ayah dan
ibuku belajar agama. Hanya aku yang tak mau saat diminta untuk mondok disana.
Aku tidak suka suasana pesantren. Jangan paksa aku bercerita kenapa.
“Sudah semester berapa kamu sekarang, Nduk ?’
Tanya Mbah Kakung yang tiba-tiba saja terbangun.
“Delapan, Kung”
“Sudah dapat apa kamu ?”
“Belum apa-apa, Kung”. Jawabku sambil meringis memamerkan gigi-gigiku.
Ku seret kursiku agar lebih dekat dengan posisi duduk Mbah Kakung. Aku
mulai meraih tangannya lalu ku pijat. Kulitnya ayit karena penuaan. Mbah Kakung
menyukai pijatanku. Dia bilang rasanya seperti pijatan Mbah Uti.
“Memangnya kapan terakhir kali dipijat sama Mbah Uti ?”. Pikirku sambil
meringis.
Lalu ku pandangi lagi foto yang masih tergeletak di meja sambil terus
berfikir apa hal berbeda yang ada di foto itu.
Semakin ku pandangi fotonya semakin keras otakku berputar. Satu
pertanyaan saja tapi begitu membuatku pusing. Sedang suara dengkuran mulai
terdengar.
“yah, tidur lagi . .”
Dengan hati-hati kuselesaikan pijitanku dan ku letakkan tangannya diatas
pangkuannya. Kemudian aku lanjutkan mengelilingi rumah sampai ke belakang.
Sekarang di halaman belakang rumah Mbah Kakung ada banyak sekali pot
bunga Mawar dengan berbagai warna. Di jemuran aku lihat pakaian wanita lengkap
dengan pakaian dalam berjejeran. Pakaian-pakaian itu tak asing bagiku. Itu
adalah kepunyaan Almarhumah Mbah Uti.
Dengan penuh keheranan ku bolak-balikkan pakaian yang masih basah di
jemuran itu. Ku lihat sekeliling sambil makin berfikir.
“Apa iya Mbah Kakung yang mencuci semua pakain ini ?”
“Apa mungkin disini ada penghuni yang lain selain Mbah Kakung ?”
Enam bulan yang lalu saat liburan semester adalah terakhir kali aku
menengok Mbah Kakung. Dan hari ini aku melihat banyak sekali perubahan yang
terjadi.
“Masya Allah . .”
Tersentak aku mendengar suara ringtone polyphonic dari ponselku. Saking
kagetnya karena aku sibuk berfikir apa mungkin Mbah Kakung mulai terkena
gangguan jiwa sehingga melakukan hal-hal aneh seperti menanam bunga dan mencuci
pakaian wanita.
“Sudah sampai rumah Mbah belum, Nduk ?”
Sms dari ayahku. Kemudian mulai ku ketik balasan dan meminta maaf karena
lupa mengabari kalau aku sudah sampai sejak satu setengah jam yang lalu.
Selesai sengan keherananku di halaman belakang. Aku masuk kembali ke
dalam rumah dan mendapati pintu kamar Mbah Kakung terbuka. Langsung saja aku
masuk tanpa ragu.
Di kamar ini keanehan makin jelas terlihat. Sekarang kamar ini mempunyai
bau lebih wangi dari sebelumnya. Ada kotak pengharum ruangan beraroma Jeruk di
atas meja rias.
Ada deretan kosmetik lengkap disana. Bedak, lipstik dan minyak wangi
aroma Mawar. Merknya persis dengan yang sering dipakai Almarhumah Mbah Uti
waktu masih gesang. Melihat semua ini
aku malah menjadi takut. Jangan-jangan benar Mbah Kakung sudah tidak waras
lagi. Apa kehilangan istri tercintanya membuat dia tak bisa mengendalikan diri.
Sementara ku lihat isi lemari. Ada banyak sekali pakaian wanita disana.
Segera saja ku tutup lemari dan kumundurkan langkahku. Kutinggalkan kamar Mbah
Kakung.
Aku kembali ke ruang tamu. Disana Mbah Kakung masih saja tertidur.
Segera kumatikan radionya karena aku tak suka mendengarkan pengajian yang
menurutku sangat membosankan.
Mbah Kakung sudah pintar masalah agama, pantas saja dia tertidur kalau
hanya mendengarkan ceramah monolog yang sama sekali tak ada feedback dari
pendengarnya. Tak ada bantahan untuk isi ceramahnya. Sudah seperti yang paling
benar saja sehingga banyak orang harus pasif mendengarkan doktrin-doktrin agama
darinya.
“Kung, pindah ke kamar saja .
Di kasur lebih empuk . .
Mbah Kung . .”
Sudah ku tepuk-tepuk tangannya dengan lembut agar dia tidak kaget saat
terbangun. Aku tak mau lagi kehilangan Mbah Kakung karena kesalahanku
membangunkannya dengan serangan jantung.
“Assalamu’alaikum . .”
Terdengar suara salam bernada lembut dari luar rumah. Srek srek, suara
langkah kaki semakin jelas mendekat. Sepertinya aku kenal suara perempuan itu.
“Wa’ . .
Wa’ . .
Wa’alaikumsalam . . .”
Terbelalak mataku, seperti berhenti detak nadiku. Kudapati seorang
wanita di depan mataku.
“Mbah Uti . .”
Bibirku berucap lirih serta merta air mataku menitih. Langsung saja ku
hampiri dan ku peluk wanita tua yang membuatku seperti terkena serangan
jantung.
Baju putih polos dan di dada kanannya bertuliskan “Muslimat NU” itu
membuatku sadar kenapa kakekku setia mendengarkan pengajian membosankan di
radio sedari tadi.
“Ini Aisyah ya ?”
Tanyanya lembut. Tapi aku masih saja diam tak percaya dengan apa yang
aku lihat saat itu. Mataku terpaku dan lidahku kaku.
Langsung saja pikiranku melayang kemana-mana. Foto janggal di atas meja,
pakaian-pakaian perempuan di jemuran dan juga di lemari, lalu kosmetik di kamar
Mbah Kakung.
Ini seperti mimpi, wajahnya mirip sekali. Hanya beda tahi lalat di pipi
kiri. Oh ya, ini yang membuatku berfikir sangat lama tentang kejanggalan dalam
foto yang aku kira dalah foto tadi.
“Sudah ketemu Mbah Uti yang baru, Nduk ?”
Sms dari ayahku lagi.

0 komentar:
Posting Komentar